Sunday, May 25, 2008

Berita Duka


Photo kenangan almarhun Noerhedi ( nomor tiga dari kiri , paling belakang ) saat mengikuti Pelatihan CS angkatan pertama di Auto 2000 Pusat .
Innalilahi Wainailaihi rojiun

Siang ini setelah makan siang , saya mengecheck email yang masuk , salah satu diantaranya datang dari rekan satu kantor di Astra dulu , si cantik Meity Kania dari Cibinong.

Meity nya memang cantik , tetapi berita yang dikirim tidaklah cantik.

Beritanya adalah rekan dekat saya sewaktu di CS Auto 2000 , Noerhedi berpulang ke rachmatulah , Innalilahi wa inailaihi rojiun.

Berita terkahir yang saya terima dari Pak Adam Sugiri , kepala cabang Auto 2000 Cibiru - Bandung pertelepon langsung siang ini dari pemakaman adalah Almarhum meninggal setelah sekitar 2 bulan menjalani perawatan di rumah sakit di Bandung.

Lama memang sudah tidak bertemu setelah belasan tahun berpisah , almarhun pindah ke Excelcomindo Prataman ( XL ) sementara saya ikut PaHe ( Paket Hengkang Astra ).

Terakhir almarhum bertemu dengan saya justru di Medan , kota tempat sama - sama kita bertugas.

Almarhum adalah sorang yang idealis , punya pendirian yang kuat apalagi jika berkata tentang kebenaran.
Lucu , humoris dan juga ringan tangan terhadap teman itulah kenangan yang sampai saat ini sulit dilupakan.

Selamat jalan Kawan , kenangan mu takkan pernah kami lupakan.

Semoga arwah dan seluruh amal perbuatannya diterima sisi Allah SWT dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan tawakal menerima cobaan ini.

Wassalam
Atas nama CS angkatan I
Djodi Ismanto
eks Customer Care Auto 2000 Head Office

Monday, December 31, 2007

Selamat Tahun Baru 2008 ( From Adinda & Lidya )

Hallo Oom Iman , Tante Ita dan Oom Budi , Tante Tuti dll semuanya
Selamat Tahun Baru 2008


Libur akhir tahun Adinda dan Lidya jalan – jalan ke Danau Toba
Berangkatnya dari Medan jam 07.30 pagi melewati kota Lubuk Pakam
Seirampah,Tebing Tinggi,dan Pematang Siantar
Jam 10.30 sampai di Pematang Siantar lalu isi bensin dulu di Texas fried chiken.
Di Siantar ade dan kakak melihat Becak yang lucu bentuknya kaya helicopter.
Lalu sampai di danau Toba ade dan kakak jalan kaki di pinggiran danau Toba melihat – lihat Pulau Samosir dari jauh,
Lalu ade dan kakak foto-foto di danau Toba ,Mama membeli buah sawo dan buah mangga , Ade dan Kakak keliling danau Toba pakai mobil , sehabis itu makan siang di rumah makan Minang namanya Putra Minang lalu kembali lagi ke Medan ,
di jalan banyak monyet yang keliaran , Ade dan Kakak kasih makan pisang dan sawo
Di tempat penyebrangan menuju pulau Samosir


Dinda di tengah danau naik " perahu bebek "



Berphoto sama Papa , Ade dan Kakak Lidya di pinggir danau


Mama beli mangga udang dipinggir danau , biasanya Tante Ita yang paling doyan


Berphoto sebelum pulang ( diatas bukit ) , Danau Toba dan Pulau Samosir dikejauhan


Mampir dulu sebelum ke Medan di kota Pematang Siantar mau beli roti , disini ada becak motor yang lucu , kaya helikopter


Nah , itulah cerita Ade dan Kakak Lidya saat libur akhir tahun di Medan
Ade naik kelas III ranking 6 ( padahal belum cukup umur , masuk saat 5 tahun )
Kakak Lidya naik kelas V ranking ke 8


Udah dulu ya , dari Ade ( Dinda )


Tuesday, November 6, 2007

Hore . . . Tante Ita ke Medan lagi


31 Oktober Tante Ita datang lagi ke Medan , wuaah asyik kita kumpul - kumpul

Tapi sayangnya Tante Ita datang cuma sebentar , sekitar 4 jam doang . . . lumayan deh


Sebelum ke Bandara , makan - makan dulu di KFC , mak . . nyus



Lidya , masih suka dipanggil Golid . . . , makan paling gembul . . . .



Tante Ita mau boarding , ngga dikasih pergi , ditarikin jangan ke Jakarta
Baju baru yang dibawain Tante Ita , langsung dipake . . .



Ini Adinda , dipanggil si Bule , soalnya paling putih



Sebelum ke Bandara , Tante Ita santai dulu dikamar Golid . . . .


Tante Ita nelpon , lagi telpon Oom Iman mungkin . . . , jemput di Jakarta he he he
Nanti ke Medan lagi ya . . .
Lidya dan Dinda mungkin November atau Desember ke Jakarta , mudah - mudahan ngga banjir ya . . .







Tuesday, September 18, 2007

Merek , Masa Depan Kita


Merek (Brand) adalah suatu nama atau simbol yang bisa membedakan produk atau pelayanan kepada kustomernya. Seiring berubahnya zaman merek mengalami evolusi. Merek sekarang bukan hanya sekedar simbol nama perusahaan ataupun nama produk, melainkan menjadi jiwa atau ruchnya perusahaan.



Dalam suatu sesi seminar "Merek Masa Depan Kita" (branding our future) dalam rangka launching logo baru PT. Astra Otoparts Tbk, beberapa waktu yang lalu , Alexander Mulya dari Mark-Plus, mengemukakan bahwa kalau diibaratkan, logo itu seperti kapal dagang, yang mana benderanya itu merupakan identitas kapal.



Apabila dipasang logo tengkorak (skull) maka artinya kapal perompak, dan apa bila dipasang identitas perusahaan, maka mengandung makna kapal dagang. Demikian pentingnya peran logo dalam kehidupan umat manusia sehingga sudah sulit rasanya dalam sehari kita melepaskan logo atau merek, walaupun kita tinggal di negara tirai besi, yang sangat tertutup.

Coba anda hitung berapa logo/merek yang anda temukan hari ini, sejak bangun pagi sampai menjelang tidur? Kalau dirasa sulit, sekarang tengok dihadapan dan di samping anda, sudah pasti anda temukan beberapa merek/logo, itu dalam hitungan detik!



Ada tiga kharakteristik merek, yaitu Image, Visi dan Kebudayaan (culture). Karakter pertama adalah Image, Image adalah rekaan/gambar yang menceritakan tentang perusahaan. Yang kedua, Visi adalah tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Segala sesuatu yang ada di dunia bisnis akan selalu dan setiap saat berubah. Untuk bertahan, jelaslah bahwa perusahaan dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Bahkan bilamana memungkinkan, sang pemimpin perusahaan harus mampu membaca ke arah mana perubahan ini bergerak dan sebisa mungkin mengadaptasikan perusahaannya untuk menghadapi situasi tersebut. Melalui visi yang jelas maka tujuan perusahaan tidaklah sulit untuk bisa dicapai, karena panduannya jelas.

Yang terakhir budaya. Budaya perusahaan bukanlah sekedar peraturan tertulis, dasar operasional, atau sistematika kerja yang menjadi buku suci perusahaan. Lebih dari itu, budaya perusahaan adalah spirit d’ corp – jiwa perusahaan, yang menjiwai keseharian dan segala aktivitas dalam perusahaan. Sangat ditekankan pentingnya Budaya Perusahaan yang menjadi dasar dari kinerja perusahaan agar mampu berkembang dan bersaing dalam jangka panjang.



Ketiga karakter diatas haruslah juga didukung dengan atribut – atribut yang sesuai yaitu: Kredibilitas Perusahaan dan Merek yang dikenal baik dan dapat dipercaya. Kredibilitas perusahaan tidak dibangun dalam semalam, tetapi dari prestasi sepanjang berdirinya perusahaan tersebut. Kredibilitas perusahaan akan selalu menjadi poin penting yang dipertanyakan baik oleh pihak internal seperti karyawan dan manajemen, tapi juga oleh pihak luar seperti investor, partner, bahkan konsumen. Kredibilitas perusahaan inilah yang menjadi dasar terbentuknya kepercayaan dari para pemegang saham yang terbukti menjadi poin terpenting dalam pengembangan suatu bisnis.



(Ferry Djajaprana)

Monday, September 17, 2007

Dinda , Lidya dan Tante Ita di Medan


Aduh senengnya Tata datang lagi ke Medan , Dinda dan Lidya jadi tambah gendut deh soalnya makan melulu nih . Kalau malam kita jalan cari makan dan lihat - lihat seputar kota Medan.



Nah , ini contohnya , Lidya lagi makan mie goreng dan minum bandrek , soalnya hujan terus enak minum yang hangat - hangat , ditempat ini ada juga nasi perang , cuma 2 ribu , tapi makan satu ngga cukup , ngga bakal kenyang.


Bulan November nanti , Tante Ita datang lagi ke Medan , kapan nih Oom Iman , Oom Budi , Tante Tuti datang kesini , mumpung duren masih banyak nih .
Selamat Berpuasa ya . . . . . .

Salam dari
Adinda dan Lidya
Medan

Wednesday, September 12, 2007

Hikmah Dibalik Peristiwa

Gempa Bumi

Dari kecil saya senang mendengar cerita. Baik lisan maupun tertulis. Dan cerita ini pula sering menjadi bahan ilustrasi saya jika sedang kebagian tugas mengajar atau memberikan briefing harian . Tidak tahu kenapa, buat saya selalu saja ada hikmah dari cerita yang saya dengar. Berikut salah satu cerita yang ingin saya share:


Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu2 nya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.


Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu
berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".
Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"


Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang2 dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni "koleksi" kuda2 yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang2 kuda segera menawar kuda2 tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya.


Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu
berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".
Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"


Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya.


Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu
berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".
Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"


Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kaki nya. Perlu waktu lama hingga tulang nya yang patah akan baik kembali. Keesokan hari nya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat.


Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya bertempur, dan berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".
Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"


Kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara.
Apa2 yang kita sebut hari ini sebagai "kesialan", barangkali di masa depan baru ketahuan adalah jalan menuju "keberuntungan". Maka orang2 seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk "menghakimi" kejadian dengan label2 "beruntung", "sial", dan sebagainya.


Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu "kesialan", manakala ternyata status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi diri nya untuk menjadi boss besar di perusahaan lain. Maka berhentilah menghakimi apa yang terjadi hari ini, kejadian – kejadian PHK , Paket Hengkang , Mutasi tugas , Bencana Alam Gempa Bumi , Konflik rumah tangga , Putus Cinta dan apapun namanya itu. . . . karena .. sungguh kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian dibalik peristiwa itu (di).


" Hadapi badai kehidupan sebesar apapun , Tuhan tahu kemampuan kita.

Kapal hebat diciptakan bukan hanya untuk disandarkan di dermaga saja "





Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, ne

Tuesday, September 11, 2007

Ayam Negeri Dan Ayam Kampung


Pada suatu hari, seorang ayah dan seorang anak laki-lakinya yang sudah menjelang dewasa tampak sedang bersama-sama memberi makanan pada ayam-ayam peliharaan mereka. Keluarga ini memang memelihara banyak ayam dari berbagai jenis, yang terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu ayam kampung dan ayam negeri.


Di sela-sela kesibukan itu, tiba-tiba sang ayah bertanya pada anaknya : “Nak, kalau kau harus memilih, yang mana kau lebih suka, jadi ayam negeri atau jadi ayam kampung?” Sang anak tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Ia tidak mampu menjawab.

“Apa maksud ayah?” katanya sejurus kemudian.


“Ini hanya sebuah permisalan. Bila kelak engkau menjadi lebih dewasa nanti, ada dua cara hidup yang bisa engkau pilih, yaitu cara hidup seperti ayam negeri, atau sebagai ayam kampung”, jelas ayahnya.


“Ah, aku tahu ! Tentu aku memilih hidup seperti ayam kampung. Ia selalu bebas pergi ke mana saja ia mau..”, jawab sang anak dengan antusias.

Si ayah yang bijaksana ini tersenyum sambil membenarkan. “Selain kebebasan, masih banyak hal-hal lain yang bisa kita ambil dari kehidupan ayam kampung, dibanding dengan kehidupan ayam negeri”, lanjut ayahnya. Lalu ia mulai berbicara panjang lebar untuk menjelaskan falsafah hidup ayam kampung kepada anak kesayangannya tersebut.


Ayam kampung berbeda terhadap ayam negeri dalam banyak hal. Perbedaan pertama yang telah disebut di atas adalah hal kebebasan. Ayam kampung selalu hidup bebas di alam lepas. Pergi ke sana ke mari mencari makan, bermain, dan bercengkerama. Sementara itu, ayam negeri selalu hidup di kandang yang bagus.


Pada malam hari, ayam kampung tidur seadanya, di mana saja. Tidak perlu di kandang, bahkan acapkali hanya di atas jerami atau pada seutas ranting. Sedangkan ayam negeri siang malam ada di kandang yang nyaman, termasuk waktu tidur. Kandangnya itu, benar-benar dibuat nyaman, bersih karena setiap hari dibersihkan. Kesehatan lingkungannya di jaga, bahkan temperatur ruangan harus selalu diatur dengan nyala lampu agar tetap hangat.

Ayam kampung mencari makan sendiri, berjuang menyibak semak-semak, mengorek sampah, merambah selokan, berpanas dan berhujan menyantap apa saja yang bisa disantapnya. Tidak peduli kotoran dan tidak hirau pelimbahan, demi menyambung hidup yang keras dari hari ke hari.


Ayam negeri di lain pihak, disediakan makanan oleh majikannya dengan makanan khusus. Penuh gizi dan bebas hama. Jadwal teratur, dan tidak boleh menyentuh makanan sembarangan. Sekali-sekali pada waktu-waktu tertentu, ayam negeri juga diberi suntikan agar lebih sehat dan produktif.


Melihat kenyataan itu, tentu terpikir oleh kita bahwa sudah sepantasnya kalau ayam negeri memiliki kelebihan dalam segala hal dibanding ayam kampung. Tapi apa nyatanya? Ayam negeri sangat sensitif. Ada keadaan yang sedikit saja menyimpang dari seharusnya, sakitlah ia. Satu sakit, yang lain pun sakit, dan akhirnya semua mati.
Sebaliknya,.ayam kampung tidak pernah sakit, tubuhnya sehat dan kuat, berkat gemblengan alam. Itu yang membuatnya tidak pernah sakit. Ia pun berjuang setiap hari di alam terbuka, melawan kekerasan alam untuk mencari nafkahnya. Ayam kampung juga memiliki rasa pengorbanan, tidak ragu untuk menyibak semak, mengorek sampah dan merambah selokan, berpanas dan berhujan sambil membimbing anak-anaknya mencari makan, agar mereka tegar seperti induknya.


Sang ayah yang bijaksana tadi berkata lagi : “Lihat, meski bergelimang berbagai kenyamanan, ayam negeri itu sesungguhnya sudah kehilangan identitas sebagai makhluk yang bebas. Statusnya sudah diubah oleh mahluk lain yang bernama manusia, tidak lagi sebagai mahluk hidup, melainkan sebagai mesin. Mesin yang menghasilkan telur dan daging dalam jumlah besar bagi keperluan manusia..”

Moral apa yang bisa kita serap dari fenomena ayam kampung dan ayam negeri ini?


Manusia bisa berkaca dari cermin kehidupan ayam negeri dan ayam kampung. Dalam bekerja mencari nafkah serta meniti karir, kebanyakan generasi muda menghendaki kehidupan nyaman tidak ubahnya bagai kehidupan ayam negeri. Mendambakan hidup nikmat di mana segala kebutuhannya dipenuhi, jauh dari beratnya perjuangan hidup, jauh dari gemblengan dan tantangan alam, bahkan kalau perlu tidak usah tahu dengan yang namanya cucuran keringat serta beratnya banting tulang.


Sejak selesai sekolah, rata-rata pemuda sudah terpola untuk bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan besar, menerima gaji besar, mendapat sejumlah jaminan dan fasilitas-fasilitas tertentu, mampu membeli rumah dan mobil sendiri, serta berkantor di salah satu gedung megah dan mewah di kawasan bisnis bergengsi. Sekolah dianggap sebagai sarana yang memberikannya standar pengakuan sebagai tiket untuk mendapatkan semua itu.


Di sana terselip sebuah pengharapan bahwa, semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin tinggi pula jabatan yang akan ia peroleh dari perusahaan, dan mereka mengira, semakin santai pula pekerjaan yang akan diberikan kepadanya. Hidup tenang dengan serba berkecukupan bahkan berkelimpahan.


Tak perlu disangsikan lagi bahwa pedoman hidup yang dianut generasi muda ini, sama dan sebangun dengan liku-liku kehidupan ayam negeri. Mereka menginginkan kenyamanan dan berbagai fasilitas yang diberikan oleh majikan, sama seperti ayam negeri menerima kenyamanan dan berbagai fasilitas dari majikannya.


Mereka menginginkan kesehatan dan jadwal hidup yang serba teratur, sama seperti ayam negeri menerima kesemua itu dari majikannya. Mereka memerlukan perhatian penuh tentang kesejahteraan diri dan keluarga, memerlukan tuntunan dan pimpinan untuk memperlancar tugas dan kewajibannya, sama seperti seperti yang diberikan majikan kepada ayam-ayam negeri itu.


Namun mereka tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, mereka telah kehilangan kebebasan dirinya, sebagai hak azasi manusia yang paling hakiki. Mereka tidak bisa lagi pergi dan terbang ke sana ke mari seperti seekor elang di langit lepas. Sama seperti yang dialami oleh ayam negeri. Lebih-lebih lagi, mereka telah kehilangan identitas diri sebagai mahluk hidup, karena status dirinya, disadari atau tidak, telah dirubah menjadi mesin yang sangat produktif demi kepentingan majikannya. Juga sama seperti ayam negeri.


Falsafah hidup seperti ayam negeri, benar-benar merupakan suatu hal yang menyesatkan, terutama bagi kalangan muda. Orang akan terpedaya dengan perasaan nikmat dalam kehidupan yang terkungkung di antara sisi-sisi tembok beton kantor atau rumahnya yang mewah. Padahal di luar, masih teramat banyak orang yang tidak cukup beruntung untuk mendapatkan pekerjaan, hidup susah di rumah-rumah kumuh dan pengap.


Falsafah ayam negeri hanya mengajarkan manusia untuk memuja kenyamanan diri semata. Meski tidak ada yang salah untuk memperoleh kesejahteraan, kesenangan dan kemewahan bagi diri dan keluarga, namun pola hidup demikian cenderung membuat orang menjadi figur yang selfish dan egois, selalu mementingkan diri sendiri. Tidak ada lagi rasa prihatin dan empati kepada sesama. Apalagi keinginan berkorban untuk orang lain.

Sindrom kenikmatan juga akan menyebabkan kaum muda kehilangan semangat dan daya juang, sehingga tidak akan mau lagi ikut memikirkan bagaimana berpartisipasi untuk memajukan negara dan bangsa, mengentaskan kemiskinan rakyat jelata dan berbagai aspek sosial lainnya yang amat dibutuhkan oleh masyarakat banyak.


Di ujung rangkaian dari berbagai kesenangan yang memabukkan itu, akhirnya akan muncullah masalah yang paling berat, yaitu kenyataan bahwa generasi muda akan menjelma menjadi generasi yang ringkih, getas dan sensitif. Generasi yang mudah patah saat dihadapkan pada situasi krisis, sebagai akibat terlalu dimanjakan oleh kenikmatan. Lagi-lagi sama seperti ayam negeri yang sensitif terhadap berbagai penyakit.



Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
E-mail: rusman@gacerindo.com
Web: http://www.gacerindo.com