Monday, December 31, 2007

Selamat Tahun Baru 2008 ( From Adinda & Lidya )

Hallo Oom Iman , Tante Ita dan Oom Budi , Tante Tuti dll semuanya
Selamat Tahun Baru 2008


Libur akhir tahun Adinda dan Lidya jalan – jalan ke Danau Toba
Berangkatnya dari Medan jam 07.30 pagi melewati kota Lubuk Pakam
Seirampah,Tebing Tinggi,dan Pematang Siantar
Jam 10.30 sampai di Pematang Siantar lalu isi bensin dulu di Texas fried chiken.
Di Siantar ade dan kakak melihat Becak yang lucu bentuknya kaya helicopter.
Lalu sampai di danau Toba ade dan kakak jalan kaki di pinggiran danau Toba melihat – lihat Pulau Samosir dari jauh,
Lalu ade dan kakak foto-foto di danau Toba ,Mama membeli buah sawo dan buah mangga , Ade dan Kakak keliling danau Toba pakai mobil , sehabis itu makan siang di rumah makan Minang namanya Putra Minang lalu kembali lagi ke Medan ,
di jalan banyak monyet yang keliaran , Ade dan Kakak kasih makan pisang dan sawo
Di tempat penyebrangan menuju pulau Samosir


Dinda di tengah danau naik " perahu bebek "



Berphoto sama Papa , Ade dan Kakak Lidya di pinggir danau


Mama beli mangga udang dipinggir danau , biasanya Tante Ita yang paling doyan


Berphoto sebelum pulang ( diatas bukit ) , Danau Toba dan Pulau Samosir dikejauhan


Mampir dulu sebelum ke Medan di kota Pematang Siantar mau beli roti , disini ada becak motor yang lucu , kaya helikopter


Nah , itulah cerita Ade dan Kakak Lidya saat libur akhir tahun di Medan
Ade naik kelas III ranking 6 ( padahal belum cukup umur , masuk saat 5 tahun )
Kakak Lidya naik kelas V ranking ke 8


Udah dulu ya , dari Ade ( Dinda )


Tuesday, November 6, 2007

Hore . . . Tante Ita ke Medan lagi


31 Oktober Tante Ita datang lagi ke Medan , wuaah asyik kita kumpul - kumpul

Tapi sayangnya Tante Ita datang cuma sebentar , sekitar 4 jam doang . . . lumayan deh


Sebelum ke Bandara , makan - makan dulu di KFC , mak . . nyus



Lidya , masih suka dipanggil Golid . . . , makan paling gembul . . . .



Tante Ita mau boarding , ngga dikasih pergi , ditarikin jangan ke Jakarta
Baju baru yang dibawain Tante Ita , langsung dipake . . .



Ini Adinda , dipanggil si Bule , soalnya paling putih



Sebelum ke Bandara , Tante Ita santai dulu dikamar Golid . . . .


Tante Ita nelpon , lagi telpon Oom Iman mungkin . . . , jemput di Jakarta he he he
Nanti ke Medan lagi ya . . .
Lidya dan Dinda mungkin November atau Desember ke Jakarta , mudah - mudahan ngga banjir ya . . .







Tuesday, September 18, 2007

Merek , Masa Depan Kita


Merek (Brand) adalah suatu nama atau simbol yang bisa membedakan produk atau pelayanan kepada kustomernya. Seiring berubahnya zaman merek mengalami evolusi. Merek sekarang bukan hanya sekedar simbol nama perusahaan ataupun nama produk, melainkan menjadi jiwa atau ruchnya perusahaan.



Dalam suatu sesi seminar "Merek Masa Depan Kita" (branding our future) dalam rangka launching logo baru PT. Astra Otoparts Tbk, beberapa waktu yang lalu , Alexander Mulya dari Mark-Plus, mengemukakan bahwa kalau diibaratkan, logo itu seperti kapal dagang, yang mana benderanya itu merupakan identitas kapal.



Apabila dipasang logo tengkorak (skull) maka artinya kapal perompak, dan apa bila dipasang identitas perusahaan, maka mengandung makna kapal dagang. Demikian pentingnya peran logo dalam kehidupan umat manusia sehingga sudah sulit rasanya dalam sehari kita melepaskan logo atau merek, walaupun kita tinggal di negara tirai besi, yang sangat tertutup.

Coba anda hitung berapa logo/merek yang anda temukan hari ini, sejak bangun pagi sampai menjelang tidur? Kalau dirasa sulit, sekarang tengok dihadapan dan di samping anda, sudah pasti anda temukan beberapa merek/logo, itu dalam hitungan detik!



Ada tiga kharakteristik merek, yaitu Image, Visi dan Kebudayaan (culture). Karakter pertama adalah Image, Image adalah rekaan/gambar yang menceritakan tentang perusahaan. Yang kedua, Visi adalah tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Segala sesuatu yang ada di dunia bisnis akan selalu dan setiap saat berubah. Untuk bertahan, jelaslah bahwa perusahaan dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Bahkan bilamana memungkinkan, sang pemimpin perusahaan harus mampu membaca ke arah mana perubahan ini bergerak dan sebisa mungkin mengadaptasikan perusahaannya untuk menghadapi situasi tersebut. Melalui visi yang jelas maka tujuan perusahaan tidaklah sulit untuk bisa dicapai, karena panduannya jelas.

Yang terakhir budaya. Budaya perusahaan bukanlah sekedar peraturan tertulis, dasar operasional, atau sistematika kerja yang menjadi buku suci perusahaan. Lebih dari itu, budaya perusahaan adalah spirit d’ corp – jiwa perusahaan, yang menjiwai keseharian dan segala aktivitas dalam perusahaan. Sangat ditekankan pentingnya Budaya Perusahaan yang menjadi dasar dari kinerja perusahaan agar mampu berkembang dan bersaing dalam jangka panjang.



Ketiga karakter diatas haruslah juga didukung dengan atribut – atribut yang sesuai yaitu: Kredibilitas Perusahaan dan Merek yang dikenal baik dan dapat dipercaya. Kredibilitas perusahaan tidak dibangun dalam semalam, tetapi dari prestasi sepanjang berdirinya perusahaan tersebut. Kredibilitas perusahaan akan selalu menjadi poin penting yang dipertanyakan baik oleh pihak internal seperti karyawan dan manajemen, tapi juga oleh pihak luar seperti investor, partner, bahkan konsumen. Kredibilitas perusahaan inilah yang menjadi dasar terbentuknya kepercayaan dari para pemegang saham yang terbukti menjadi poin terpenting dalam pengembangan suatu bisnis.



(Ferry Djajaprana)

Monday, September 17, 2007

Dinda , Lidya dan Tante Ita di Medan


Aduh senengnya Tata datang lagi ke Medan , Dinda dan Lidya jadi tambah gendut deh soalnya makan melulu nih . Kalau malam kita jalan cari makan dan lihat - lihat seputar kota Medan.



Nah , ini contohnya , Lidya lagi makan mie goreng dan minum bandrek , soalnya hujan terus enak minum yang hangat - hangat , ditempat ini ada juga nasi perang , cuma 2 ribu , tapi makan satu ngga cukup , ngga bakal kenyang.


Bulan November nanti , Tante Ita datang lagi ke Medan , kapan nih Oom Iman , Oom Budi , Tante Tuti datang kesini , mumpung duren masih banyak nih .
Selamat Berpuasa ya . . . . . .

Salam dari
Adinda dan Lidya
Medan

Wednesday, September 12, 2007

Hikmah Dibalik Peristiwa

Gempa Bumi

Dari kecil saya senang mendengar cerita. Baik lisan maupun tertulis. Dan cerita ini pula sering menjadi bahan ilustrasi saya jika sedang kebagian tugas mengajar atau memberikan briefing harian . Tidak tahu kenapa, buat saya selalu saja ada hikmah dari cerita yang saya dengar. Berikut salah satu cerita yang ingin saya share:


Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu2 nya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.


Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu
berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".
Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"


Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang2 dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni "koleksi" kuda2 yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang2 kuda segera menawar kuda2 tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya.


Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu
berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".
Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"


Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya.


Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu
berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!".
Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"


Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kaki nya. Perlu waktu lama hingga tulang nya yang patah akan baik kembali. Keesokan hari nya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat.


Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya bertempur, dan berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!".
Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"


Kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara.
Apa2 yang kita sebut hari ini sebagai "kesialan", barangkali di masa depan baru ketahuan adalah jalan menuju "keberuntungan". Maka orang2 seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk "menghakimi" kejadian dengan label2 "beruntung", "sial", dan sebagainya.


Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu "kesialan", manakala ternyata status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi diri nya untuk menjadi boss besar di perusahaan lain. Maka berhentilah menghakimi apa yang terjadi hari ini, kejadian – kejadian PHK , Paket Hengkang , Mutasi tugas , Bencana Alam Gempa Bumi , Konflik rumah tangga , Putus Cinta dan apapun namanya itu. . . . karena .. sungguh kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian dibalik peristiwa itu (di).


" Hadapi badai kehidupan sebesar apapun , Tuhan tahu kemampuan kita.

Kapal hebat diciptakan bukan hanya untuk disandarkan di dermaga saja "





Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, ne

Tuesday, September 11, 2007

Ayam Negeri Dan Ayam Kampung


Pada suatu hari, seorang ayah dan seorang anak laki-lakinya yang sudah menjelang dewasa tampak sedang bersama-sama memberi makanan pada ayam-ayam peliharaan mereka. Keluarga ini memang memelihara banyak ayam dari berbagai jenis, yang terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu ayam kampung dan ayam negeri.


Di sela-sela kesibukan itu, tiba-tiba sang ayah bertanya pada anaknya : “Nak, kalau kau harus memilih, yang mana kau lebih suka, jadi ayam negeri atau jadi ayam kampung?” Sang anak tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Ia tidak mampu menjawab.

“Apa maksud ayah?” katanya sejurus kemudian.


“Ini hanya sebuah permisalan. Bila kelak engkau menjadi lebih dewasa nanti, ada dua cara hidup yang bisa engkau pilih, yaitu cara hidup seperti ayam negeri, atau sebagai ayam kampung”, jelas ayahnya.


“Ah, aku tahu ! Tentu aku memilih hidup seperti ayam kampung. Ia selalu bebas pergi ke mana saja ia mau..”, jawab sang anak dengan antusias.

Si ayah yang bijaksana ini tersenyum sambil membenarkan. “Selain kebebasan, masih banyak hal-hal lain yang bisa kita ambil dari kehidupan ayam kampung, dibanding dengan kehidupan ayam negeri”, lanjut ayahnya. Lalu ia mulai berbicara panjang lebar untuk menjelaskan falsafah hidup ayam kampung kepada anak kesayangannya tersebut.


Ayam kampung berbeda terhadap ayam negeri dalam banyak hal. Perbedaan pertama yang telah disebut di atas adalah hal kebebasan. Ayam kampung selalu hidup bebas di alam lepas. Pergi ke sana ke mari mencari makan, bermain, dan bercengkerama. Sementara itu, ayam negeri selalu hidup di kandang yang bagus.


Pada malam hari, ayam kampung tidur seadanya, di mana saja. Tidak perlu di kandang, bahkan acapkali hanya di atas jerami atau pada seutas ranting. Sedangkan ayam negeri siang malam ada di kandang yang nyaman, termasuk waktu tidur. Kandangnya itu, benar-benar dibuat nyaman, bersih karena setiap hari dibersihkan. Kesehatan lingkungannya di jaga, bahkan temperatur ruangan harus selalu diatur dengan nyala lampu agar tetap hangat.

Ayam kampung mencari makan sendiri, berjuang menyibak semak-semak, mengorek sampah, merambah selokan, berpanas dan berhujan menyantap apa saja yang bisa disantapnya. Tidak peduli kotoran dan tidak hirau pelimbahan, demi menyambung hidup yang keras dari hari ke hari.


Ayam negeri di lain pihak, disediakan makanan oleh majikannya dengan makanan khusus. Penuh gizi dan bebas hama. Jadwal teratur, dan tidak boleh menyentuh makanan sembarangan. Sekali-sekali pada waktu-waktu tertentu, ayam negeri juga diberi suntikan agar lebih sehat dan produktif.


Melihat kenyataan itu, tentu terpikir oleh kita bahwa sudah sepantasnya kalau ayam negeri memiliki kelebihan dalam segala hal dibanding ayam kampung. Tapi apa nyatanya? Ayam negeri sangat sensitif. Ada keadaan yang sedikit saja menyimpang dari seharusnya, sakitlah ia. Satu sakit, yang lain pun sakit, dan akhirnya semua mati.
Sebaliknya,.ayam kampung tidak pernah sakit, tubuhnya sehat dan kuat, berkat gemblengan alam. Itu yang membuatnya tidak pernah sakit. Ia pun berjuang setiap hari di alam terbuka, melawan kekerasan alam untuk mencari nafkahnya. Ayam kampung juga memiliki rasa pengorbanan, tidak ragu untuk menyibak semak, mengorek sampah dan merambah selokan, berpanas dan berhujan sambil membimbing anak-anaknya mencari makan, agar mereka tegar seperti induknya.


Sang ayah yang bijaksana tadi berkata lagi : “Lihat, meski bergelimang berbagai kenyamanan, ayam negeri itu sesungguhnya sudah kehilangan identitas sebagai makhluk yang bebas. Statusnya sudah diubah oleh mahluk lain yang bernama manusia, tidak lagi sebagai mahluk hidup, melainkan sebagai mesin. Mesin yang menghasilkan telur dan daging dalam jumlah besar bagi keperluan manusia..”

Moral apa yang bisa kita serap dari fenomena ayam kampung dan ayam negeri ini?


Manusia bisa berkaca dari cermin kehidupan ayam negeri dan ayam kampung. Dalam bekerja mencari nafkah serta meniti karir, kebanyakan generasi muda menghendaki kehidupan nyaman tidak ubahnya bagai kehidupan ayam negeri. Mendambakan hidup nikmat di mana segala kebutuhannya dipenuhi, jauh dari beratnya perjuangan hidup, jauh dari gemblengan dan tantangan alam, bahkan kalau perlu tidak usah tahu dengan yang namanya cucuran keringat serta beratnya banting tulang.


Sejak selesai sekolah, rata-rata pemuda sudah terpola untuk bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan besar, menerima gaji besar, mendapat sejumlah jaminan dan fasilitas-fasilitas tertentu, mampu membeli rumah dan mobil sendiri, serta berkantor di salah satu gedung megah dan mewah di kawasan bisnis bergengsi. Sekolah dianggap sebagai sarana yang memberikannya standar pengakuan sebagai tiket untuk mendapatkan semua itu.


Di sana terselip sebuah pengharapan bahwa, semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin tinggi pula jabatan yang akan ia peroleh dari perusahaan, dan mereka mengira, semakin santai pula pekerjaan yang akan diberikan kepadanya. Hidup tenang dengan serba berkecukupan bahkan berkelimpahan.


Tak perlu disangsikan lagi bahwa pedoman hidup yang dianut generasi muda ini, sama dan sebangun dengan liku-liku kehidupan ayam negeri. Mereka menginginkan kenyamanan dan berbagai fasilitas yang diberikan oleh majikan, sama seperti ayam negeri menerima kenyamanan dan berbagai fasilitas dari majikannya.


Mereka menginginkan kesehatan dan jadwal hidup yang serba teratur, sama seperti ayam negeri menerima kesemua itu dari majikannya. Mereka memerlukan perhatian penuh tentang kesejahteraan diri dan keluarga, memerlukan tuntunan dan pimpinan untuk memperlancar tugas dan kewajibannya, sama seperti seperti yang diberikan majikan kepada ayam-ayam negeri itu.


Namun mereka tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, mereka telah kehilangan kebebasan dirinya, sebagai hak azasi manusia yang paling hakiki. Mereka tidak bisa lagi pergi dan terbang ke sana ke mari seperti seekor elang di langit lepas. Sama seperti yang dialami oleh ayam negeri. Lebih-lebih lagi, mereka telah kehilangan identitas diri sebagai mahluk hidup, karena status dirinya, disadari atau tidak, telah dirubah menjadi mesin yang sangat produktif demi kepentingan majikannya. Juga sama seperti ayam negeri.


Falsafah hidup seperti ayam negeri, benar-benar merupakan suatu hal yang menyesatkan, terutama bagi kalangan muda. Orang akan terpedaya dengan perasaan nikmat dalam kehidupan yang terkungkung di antara sisi-sisi tembok beton kantor atau rumahnya yang mewah. Padahal di luar, masih teramat banyak orang yang tidak cukup beruntung untuk mendapatkan pekerjaan, hidup susah di rumah-rumah kumuh dan pengap.


Falsafah ayam negeri hanya mengajarkan manusia untuk memuja kenyamanan diri semata. Meski tidak ada yang salah untuk memperoleh kesejahteraan, kesenangan dan kemewahan bagi diri dan keluarga, namun pola hidup demikian cenderung membuat orang menjadi figur yang selfish dan egois, selalu mementingkan diri sendiri. Tidak ada lagi rasa prihatin dan empati kepada sesama. Apalagi keinginan berkorban untuk orang lain.

Sindrom kenikmatan juga akan menyebabkan kaum muda kehilangan semangat dan daya juang, sehingga tidak akan mau lagi ikut memikirkan bagaimana berpartisipasi untuk memajukan negara dan bangsa, mengentaskan kemiskinan rakyat jelata dan berbagai aspek sosial lainnya yang amat dibutuhkan oleh masyarakat banyak.


Di ujung rangkaian dari berbagai kesenangan yang memabukkan itu, akhirnya akan muncullah masalah yang paling berat, yaitu kenyataan bahwa generasi muda akan menjelma menjadi generasi yang ringkih, getas dan sensitif. Generasi yang mudah patah saat dihadapkan pada situasi krisis, sebagai akibat terlalu dimanjakan oleh kenikmatan. Lagi-lagi sama seperti ayam negeri yang sensitif terhadap berbagai penyakit.



Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
E-mail: rusman@gacerindo.com
Web: http://www.gacerindo.com

Tuesday, September 4, 2007

Silaturahmi PWS

Persatuan Wargi Sunda - Medan

Mohon Kasumpinganana dina acara silaturahmi dibumi Ketua PWS baru :

Bpk. Dani Kustoni
Kompleks TASBIH Blok TT No, 14 - Setia Budi - Medan
dinten Jum'at , 07 September 2007
Jam 19.30 WIB

Mohon disebar luaskeun , hatur nuhun

Info from SMS jam 09.43 ( 081362278760 )

Regards
Djodi Ismanto

Friday, August 31, 2007

Hikmah Mendapat Gangguan Pendengaran



Thomas Alva Edison sangat terkenal sebagai ilmuwan penemu lebih dari 1.000 paten, tercatat terbanyak sepanjang masa. Tetapi tidak banyak yang mengetahui bahwa ia menderita gangguan pendengaran sejak lahir. Ia tidak mampu mendengar suara lembut, kecuali teriakan keras.

Suatu hari ada orang bertanya mengapa ia tidak menggunakan alat bantu dengar untuk memperjelas suara-suara di sekitarnya. Thomas Alva Edison hanya tertawa. "Dalam satu hari ada berapa berita yang seharusnya didengar? Tapi kalau seseorang harus berteriak kepada saya, maka dia tidak mungkin membohongiku," katanya.

Pesan:

Thomas Alva Edison tidak menganggap kekurangan pada dirinya sebagai cacat yang memalukan. Sebaliknya, ia menganggap kekurangan itu sebagai karunia yang patut disyukuri, karena ia tidak perlu mendengar kebohongan, berita negatif atau kata-kata yang dapat mengendorkan semangatnya. Gangguan pendengaran baginya adalah anugrah yang membuatnya mampu memanfaatkan waktu secara maksimal dan lebih konsentrasi berpikir untuk menciptakan penemuan yang bermanfaat bagi manusia.

Pada dasarnya setiap manusia memiliki keistimewaan yang tampak sebagai kelebihan maupun kekurangan. Thomas Alva Edison memanfaatkan keistimewaan tersebut untuk menciptakan prestasi hidup. Itu pertanda bahwa kemampuan kita memanfaatkan keistimewaan yang ada di dalam diri kita sendiri ternyata lebih menentukan keberhasilan dibandingkan kekuatan kita yang lain misalnya kecerdasan, kondisi fisik yang sehat dan menarik, bakat, kekayaan, dan lain sebagainya.

Contoh lain adalah seorang fisikawan Stephen Hawking menderita penyakit ALS atau degenarative disease, yaitu penyakit langka yang muncul akibat rusaknya sel-sel syaraf pengontrol otot-otot tubuh, seharusnya beristirahat total. Tetapi ia memilih terus berkarya dan berhasil meraih sejumlah penghargaan berharga. Ia mengatakan selalu berusaha hidup senormal mungkin, tidak terlalu memikirkan rasa sakit maupun keterbatasan kemampuannya.

Di Indonesia, nama Pepeng pelawak sekaligus pembawa acara populer juga pernah lumpuh akibat multiple sclerosis. Namun pria kelahiran Sumenep, Madura, 52 tahun silam ini bukan orang yang mudah menyerah. Ia menerima kelumpuhannya dengan ikhlas.

Sangat banyak orang yang memiliki nilai lebih dari segi kondisi fisik, kecerdasan, bakat yang mengagumkan, pendidikan dan lain sebagainya tetapi tidak berhasil dalam hidupnya. Karena hanya sebagian kecil diantara mereka yang bersedia memanfaatkannya. Thomas Alva Edison, Hawking, dan Pepeng adalah contoh orang-orang yang penuh semangat dan kegigihan yang luar biasa dalam memanfaatkan seluruh keistimewaan mereka dalam berkarya di tengah keterbatasan


Andrew Ho - Managing Director PT. KK. Indonesia, motivator, pengusaha, dan penulis buku

Hikmah Mendapat Gangguan Pendengaran



Thomas Alva Edison sangat terkenal sebagai ilmuwan penemu lebih dari 1.000 paten, tercatat terbanyak sepanjang masa. Tetapi tidak banyak yang mengetahui bahwa ia menderita gangguan pendengaran sejak lahir. Ia tidak mampu mendengar suara lembut, kecuali teriakan keras.

Suatu hari ada orang bertanya mengapa ia tidak menggunakan alat bantu dengar untuk memperjelas suara-suara di sekitarnya. Thomas Alva Edison hanya tertawa. "Dalam satu hari ada berapa berita yang seharusnya didengar? Tapi kalau seseorang harus berteriak kepada saya, maka dia tidak mungkin membohongiku," katanya.

Pesan Moral :

Thomas Alva Edison tidak menganggap kekurangan pada dirinya sebagai cacat yang memalukan. Sebaliknya, ia menganggap kekurangan itu sebagai karunia yang patut disyukuri, karena ia tidak perlu mendengar kebohongan, berita negatif atau kata-kata yang dapat mengendorkan semangatnya. Gangguan pendengaran baginya adalah anugrah yang membuatnya mampu memanfaatkan waktu secara maksimal dan lebih konsentrasi berpikir untuk menciptakan penemuan yang bermanfaat bagi manusia.

Pada dasarnya setiap manusia memiliki keistimewaan yang tampak sebagai kelebihan maupun kekurangan. Thomas Alva Edison memanfaatkan keistimewaan tersebut untuk menciptakan prestasi hidup. Itu pertanda bahwa kemampuan kita memanfaatkan keistimewaan yang ada di dalam diri kita sendiri ternyata lebih menentukan keberhasilan dibandingkan kekuatan kita yang lain misalnya kecerdasan, kondisi fisik yang sehat dan menarik, bakat, kekayaan, dan lain sebagainya.

Contoh lain adalah seorang fisikawan Stephen Hawking menderita penyakit ALS atau degenarative disease, yaitu penyakit langka yang muncul akibat rusaknya sel-sel syaraf pengontrol otot-otot tubuh, seharusnya beristirahat total. Tetapi ia memilih terus berkarya dan berhasil meraih sejumlah penghargaan berharga. Ia mengatakan selalu berusaha hidup senormal mungkin, tidak terlalu memikirkan rasa sakit maupun keterbatasan kemampuannya.

Di Indonesia, nama Pepeng pelawak sekaligus pembawa acara populer juga pernah lumpuh akibat multiple sclerosis. Namun pria kelahiran Sumenep, Madura, 52 tahun silam ini bukan orang yang mudah menyerah. Ia menerima kelumpuhannya dengan ikhlas.

Sangat banyak orang yang memiliki nilai lebih dari segi kondisi fisik, kecerdasan, bakat yang mengagumkan, pendidikan dan lain sebagainya tetapi tidak berhasil dalam hidupnya. Karena hanya sebagian kecil diantara mereka yang bersedia memanfaatkannya. Thomas Alva Edison, Hawking, dan Pepeng adalah contoh orang-orang yang penuh semangat dan kegigihan yang luar biasa dalam memanfaatkan seluruh keistimewaan mereka dalam berkarya di tengah keterbatasan.


Andrew Ho - Managing Director PT. KK. Indonesia, motivator, pengusaha, dan penulis buku

Thursday, July 26, 2007

Energy of Money


Baru-baru ini dunia pun heboh oleh buku “The Secret”.Intinya adalah ajakan untuk memahami bahwa alam semesta ini benar-benar kaya. Tinggal bagaimana caranya kita bisa menarik kekayaan tersebut dalam kehidupan kita? Saya pun mencoba mencari tahu apa sebenarnya arti kata kekayaan itu sendiri.

Akhirnya saya bisa menemukannya dalam sebuah buku lama karangan Deepak Chopra. Judulnya The seven spriritual Laws Of Success. Kata kekayaan (affluence) berasal dari kata dasar ”affluere” yang artinya ”mengalir ke”. Kata affluence berarti “mengalir secara berlimpah”. Uang sesungguhnya suatu simbol energi kehidupan yang kita tukarkan dan energi kehidupan yang kita gunakan sebagai hasil jasa yang kita berikan kepada semesta. Kata lain uang (money) adalah “currency”, yang juga merefleksikan sifat aliran energi. Kata currency berasal dari bahasa Latin yaitu “currere” yang berarti “mengalir”.


Oleh karena itu, jika kita menghentikan sirkulasi uang dengan maksud menyimpannya serta menimbunnya.
Maka energi yang ada dalam uang tersebut berhenti mengalir kepada kita. Karena uang adalah energi kehidupan. Supaya energi mengalir pada kita, kita harus tetap menjaganya terus bersirkulasi. Seperti sungai, uang harus dijaga agar terus mengalir. Bila tidak ia akan mulai berhenti, membeku sehingga mengganggu arus sirkulasi dan menyebabkan rusaknya struktur kehidupan kita sendiri. Sirkulasi harus diupayakan tetap hidup dan vital. Intinya adalah More You Give and More You Get.


Bagaimana caranya supaya energi uang ini bisa mengalir terus dalam kehidupan kita?
Periksa pakaian, sepatu, benda – benda atau barang-barang elektronik yang selama ini jarang anda gunakan. Kumpulkan dan berikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Bila anda sudah melakukannya berarti anda sudah menciptakan satu aliran energi baru dalam kehidupan Anda. Ini yang disebut the vacuum law of prosperity. Mulai sekarang rajinlah untuk memeriksa benda-benda yang tidak anda gunakan lagi. Semakin sering anda melakukannya maka aliran energi ini akan semakin kuat. Inilah yang disebut dengan vibrasi. Semakin banyak vibrasi positif yang kita alirkan maka dia akan membuat gelombang energi positif yang semakin kuat pula. Sehingga anda jangan terkejut. Begitu aliran ini sudah berjalan dalam hidup anda, dia akan menarik apapun yang anda inginkan.

Ini ada satu resep sederhana yang saya pelajari dari teman saya. Dia bila ingin berpergian ke satu tempat. Selalu menyiapkan uang recehan 500, 1000 atau 5000 didalam kantongnya. Bahkan, dia pun sering mempunyai target. Harus menghabiskan uang recehan itu sebesar 5000 rupiah setiap harinya. Kepada siapa saja uang itu diberikannya? Ternyata uang tersebut dia bisa berikan kepada tukang parkir, tukang koran, pengemis atau kepada siapa saja yang membutuhkannya. Semua uang yang diberikannya tersebut, selalu didoakannya terlebih dahulu.

Kita tidak tahu mungkin dengan uang yang sedikit tersebut bisa bermanfaat bagi orang-orang tertentu. Bisa untuk makan, bisa untuk beli beras. Atau untuk membeli susu bagi anaknya. Ya, teman saya ini benar sekali. Dia sudah mengajarkan kepada kita tentang prinsip memberi. Semakin banyak memberi maka secara tidak langsung kita sudah membuat satu aliran energi baru. Pada saat timbul hasrat untuk memberi. Berikan saja. Mempraktekkan hukum memberi sesungguhnya sangat mudah. Jika anda ingin kesenangan, berilah kesenangan. Jika anda ingin kasih sayang, berilah kasih sayang. Jika anda ingin kekayaan materi, bantulah orang lain bergelimang materi. Cara yang paling mudah untuk mendapatkan apa yang anda inginkan adalah dengan menolong orang lain mewujudkan apa yang mereka inginkan.


Bila anda sudah melakukan dua hal tersebut di atas. Tapi masih belum ada aliran energi yang membuat uang datang kepada Anda. Hal ini disebabkan diri anda sendiri yang menjadi penghambatnya. Dengan cara mempratekkan forgiveness atau memberikan maaf secara tulus. Maka energi-energi negatif itu bisa hilang. Berikanlah permohonan maaf yang tulus kepada orang yang pernah membuat anda benci, marah.
Walaupun terasa sangat sakit. Lakukan hal itu sehingga membuat diri Anda merasa nyaman.


Ingat begitu anda sudah let’s go ( sudah membiarkan itu pergi dan melepaskannya ). Anda otomatis mempunyai kekuatan yang lebih besar untuk menarik uang/kekayaan.

Daniel Kurniawan ( www.rumahmotivasi.com )

Monday, July 9, 2007

FENOMENA 07-07-07


FENOMENA 07-07-07

Kemarin sore dalam pesawat perjalanan pulang dari Jakarta menuju Medan , saya mendengar celotehan beberapa penumpang tentang fenomena unik tanggal 07 - 07 - 07 , macam - macam versinya ada yang bilang tanggal sial sehubungan dengan banyaknya kecelakaan moda darat di Jabar , ada pula yang bilang awal pertanda berkah , macam - macam deh komentarnya.
Nah buat teman - teman sendiri gimana ?

Kalau saya ?, ah biasa aja tuh , semua tanggal semua hari sama aja sih , tapi . . . . . . . yang penting kan cara kita menyikapinya , maksudnya saya menyikapi kan ada yang macam - macam , ada yang berbau klenik , ada yang syirik , ada pula yang Islami . . . . . nah saya pilih yang terakhir.

Gimana caranya menyikapi dengan Islami ? Pertama kita percaya dulu dengan rukun Iman dan rukun Islam , nah Iman pasti harus kuat lebih dulu , Kedua , harus percaya bahwa petunjuk hidup didunia itu adalah Al Qur'an.
Terus ada apa pada dengan tanggal tersebut ? Nah angka 070707 atau kita singkat 777 , kemudian karena surah Al qur'an cuma ada 114 , maka tanggal tersebut kita bagi dalam dua jenis , pertama 7 kemudian 77 .

Sekarang kita buka Qur'a pada surah 7 yaitu surah Al A'raaf , yang artinya Tempat Tertinggi , dalam surah tersebut digambarkan tempat tertinggi positif dan negatif bagi manusia , artinya kembali lagi ke Iman yang tadi , kalau Imannya positif dia akan Bahagia , tapi jika imannya negatif , dia akan senggsara .
Jadi tidak ada yang istimewa pada hari itu , kalaupun ada hoki atau celaka itu sudah destiny dari Yang Maha Sutradara.

Bagaimana denga surah 77 , coba kita lihat , nah ternyata surah Mur Salaat , yang artinya Malaikat yang diutus , diceritakan dalam surah itu adalah persoalan yang berkepanjangan yang menimpa suatu negeri.
Nah . . nah kira -kira sama ngga dengan yang terjadi pada negeri kita sekarang ini .

Ini bukan Djodi Ismanto yang meramal lho , ini kata Al Qur'an.
Tetapi mungkin teman - teman masih menganggap suatu kebetulan ...ngga apa - apa kita test lagi yuk.
Gimana dengan kita flash back ke tempat kerja kita dulu RBI ? . . . . . Berani buka - bukaan ? Oke . . .

Nah tempat kerja kita namanya RBI . . . . . nama orang , nama kantor bila disebut itu merupakan doa , makanya ada kepercayaan Jawa yang kadang menyuruh ganti nama karena bisa dianggap sial.
Kita mulai kaji RBI ya . . . jika A=1 , B= 2 C=3 dst. , maka R + B + I = 18 + 2 + 9 = 29 . . . .
Surah 29 adalah surah An Kabuut , yang artinya Laba - Laba , dalam surah itu diceritakan tentang orang yang jika beriman ia akan punya INISIASTIF , KREATIF dan SEMANGAT PANTANG MENYERAH . . . . . . bukan kah memang etos kerja seperti itu yang harus kita lakukan di RBI jika ingin maju . . . . . sama seperti nasehat Aa GUM yang lalu.

Sebaliknya surah itu juga berisi peringatan bagi orang yang tidak beriman bahwa ia akan Kurang PD , suka ngambek dan lain lain . . .
Nah invest yang gagal di RBI kan yang ngga PD ( Percaya Diri ) ngetok rumah AB dsb.. . . . betul kan.

Lebih meyakinkan lagi adalah dari nomor kantor RBI , Tanah Abang II No. 15
Angka 1 itu jelas sudah menunjukkan pada surah Al Fatihah , dimana dalam ayatnya terlansir , " Tunjukkanlah aku jalan yang lurus . . . .dst.dst" .
Saat invest briefing , RE kan sudah ngasih tahu " jalan yang lurus " harus usership begini , harus interval begitu dst , eh masih dilanggar juga . . . ya diliburin deh . . . .cucian deh loe . . . .

So , jadi kesimpulannya ? istimewa atau tidaknya suatu fenomena atau hari atau tanggal tertentu adalah tergantung cara kita menyikapinya , tentunya dalam koridor yang Islami.
Selama petunjuk dari Allah yang jadi pegangan maka selamatlah kita.

Saya punya satu pengalaman hidup yang berharga , saat menduduki posisi yang mantap di Astra , saya dapat tawaran di Mitsubishi , saat itu semua orang sebut saya " Orang Gila " karena mau kabur dari perusahaan yang sudah settle.
Apa yang saya lakukan ? Saya buka shalat istiharah dan buka Al Qur'an , . . . . . tujuh kali saya buka Qur'an secara random , dan anehnya cuma satu surah itu - itu aja yang terbuka selama 7 kali berturut - turut. . . anda mau tahu surah apa ? . . . . .Al Hijrah ! ( Pindah ! ) . . .aneh tapi nyata !

Dan sehari sebelum saya melayangkan surat mundur , management mengeluarkan policy " Golden Shake Hand " paket hengkang untuk karyawan yang mengundurkan diri dengan kompensasi yang menggiurkan.
Bisa diterka kan yang saya dapat . . . Duit dan Karir yang meningkat ditempat lain.
Dan Anda Juga bisa . . . . Jangan Lupa Rukun Iman dan Rukun Islam . . .itu aja kuncinya . . . .
Tinggal anda hitung jumlah angka nama atau nomor HP anda . . . . . . . lalu cocokkan dengan Al ' Qur'an.

Regards,
DJODI ISMANTO
From nice city of Medan

Friday, July 6, 2007

NAPAK TILAS RBI-2


Medio Maret 1988 , Dua orang anggota invest team CMI baru saja selesai melakukan interview beberapa responden di sebuah desa rural , kawasan Suka Sari Bogor , sebut saja Wahyu dan Harmen.( bukan nama sebenarnya )

Saat menuruni lembah menuju arah kota Bogor , tiba – tiba terdengar sebuah sapaan ramah dari sebuah rumah.

“ Halo oom Wahyu , mau pulang Oom “ seorang gadis remaja tanggung menyapa salah satu teman invest kita yang paling senior.

Wahyu memang investigator paling spesialis untuk daerah tersebut , hingga tak heran jika hampir seluruh kampung tersebut mengenalnya , ditambah lagi dia memang asli putra Sunda.

Iya nih , mau pulang ke Jakarta “ jawab Wahyu , “ Mampir dong oom “ pinta si gadis , “ Bapak ada kok didalam “ lanjutnya , Wahyu sebenarnya agak enggan mengingat hari sudah sore , sementara jarak ke Jakarta masih jauh.

Namun rekannya Harmen terus mendesak “ Cewek kece tuh , udah yuk kita mampir aja “ ujar Harmen.

Didesak demikian Wahyu tak bisa menolak , segeralah keduanya bertamu kerumah tersebut , belakangan diketahui didiami oleh keluarga Haji Tohir , kepala kampung tersebut yang selama ini memang menjadi target responden RBI.

Segeralah keduanya beramah tamah dengan Haji Tohir , sementara anak gadisnya setelah membawakan pisang rebus segera mohon pamit ‘ Oom , Ina mau mandi dulu ya “ dan segera berlalu keluar rumah , sementara Harmen agak bingung , mau mandi kok keluar rumah , setelah dijelaskan bahwa kamar mandinya terletak beberapa meter dimuka rumah dipinggir sungai , barulah ia paham.

Haji Tohir pun menyilahkan mereka untuk menikmati suguhan pisang rebus yang disediakan.

Tidak lebih dari 2 menit makan pisang rebus tersebut , Harmen terlihat agak nanar , pandangannya kosong , sementara matanya agak terbeliak , Wahyu dan Haji Tohir pun agak panik , “ Wah , ayan nih “ pikir Wahyu , yang segera mengambil air minum , ‘ Coba Men , minum nih , minum nih “ , sementara Haji Tohir berinisiatif memijat punggungnya karena menyangka dia tersedak.

Namun Harmen menolak pertolongan tersebut , dan terus saja makan pisang tersebut , Wahyu pun berulang kali berseru “ jangan – jangan dimakan “ , udah minum – minum aja yang banyak “ katanya.

Harmen tetap tidak mengindahkan peringatan tersebut dan menolak bantuan rekannya.

Tak lama sitausi pulih , Harmen duduk tenang dengan pandangan sedikit sayu , tubuhnya agak lemas , namun napasnya masih terengah – engah.

Takut dengan berubah memburuk , Wahyu berinisiatif untuk pamit , mengingat perjalanan pulang masih jauh.

Selama perjalanan ke terminal Baranangsiang – Bogor perdebatan sengit terjadi antara keduanya.

Harmen : “ Kenapa sih Yu , reseh ganggu orang happy aja

Wahyu : “ Lho reseh apanya , Gw kan mau nolong loe , kok malah nuduh gitu “

Harmen : “ Nolong apaan , gw kan ngga sakit kenapa – napa ! “

Wahyu : “ Ngga sakit gimana , mata mendelik , keluar keringat dingin , makan pisang kelihatan susah , kayaknya kan loe lagi “ kelolodan “ , makanya gw suruh minum banyak – banyak dan pisangnya jangan dimakan “.

Harmen : “ Nah , makanya itu gw bilang loe ini ngga suka orang lagi senang ,

Tahu ngga saat tadi anak pak RT mau mandi , kan gw lihatin dia terus , ternyata dia masuk bilik kecil yang di depan rumah itu

Eh , tanpa ragu dia buka seluruh bajunya , gw kan duduk pas menghadap keluar , gimana ngga panas dingin lihat “ Gitar Spanyol “ keluar dari bungkusnya “ jawabnya sambil nyengir kuda , “ Ya , gw salah tingkah lah , sementara loe ini repot nyuruh gw minum lah , pandangan kan jadi terganggu “ . . . . .

Wahyu : “ O , itu masalahnya “ , Wahyu paham “kelakuan “ temannya yang memang mata bongsang. : Bener kok , gw mau nolongin loe , sekarang gw tanya ya ,enak ngga pisang rebus tadi ?

Harmen : “ Ah ngga perhatiin tuh , konsentrasi gw ke “ Gitar Spanyol “ kok “ yang penting sekarang kenyang , gw embat 4 biji sekaligus !.

Wahyu :” Nah , disitulah masalahnya , gw nyuruh loe minum kan , gw larang makan pisang itu kan , karena gw lihat sendiri semua pisang yang loe makan lupa loe buang kulitnya . . . . . . . .”

Harmen : “ Alamaaaaak “ sambil megang perut

Wahyu : ‘ Makanya otak jangan cuma di Gitar Spanyol doang , kulit pisang loe embat juga . . . . .”

Harmen : “Gerz(&#@|X?>

Do you really want to know who they are ? Stay tune for tomorrow . . .after week end.


Regards,
From nice city of Medan